A. Pengertian Organisasi Kurikulum
Organisasi
kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan disampaikan
kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum
dan bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena
bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara
menyajikannya kepada murid-murid.
Burhan
Nurgiyantoro, (1988: Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah
111) Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa
kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada murid.
Drs.
Soekarno K. Organisasi sebagai fungsi manajemen (organisasi dalam pengertian
dinamis) adalah organisasi yang memberikan kemungkinan bagi manajemen dapat
bergerak dalam batas-batas tertentu. Muhaimin, (1991, Konsep Pendidikan Islam
41) Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka
umum program-program pengajaran yang di sampaikan kepada peserta didik guna
tercapainya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang di tetapkan.
B. Faktor-Faktor Pada
Organisasi Kurikulum
Dalam
penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan,
yakni :
1. Ruang
lingkup (Scope)
Merupakan
keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang harus dipelajari siswa. Ruang
lingkup bahan pelajaran sangat tergantung pada tujuan pendidikan yang hendak
dicapai.
2. Urutan
bahan (Sequence)
Berhubungan
dengan urutan penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa
agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar. Urutan bahan meliputi dua hal
yaitu urutan isi bahan pelajaran dan urutan pengalaman belajar yang memerlukan
pengetahuan tentang perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
3. Kontinuitas
Berhubungan
dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata pelajaran, pada tiap jenjang
sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam mata pelajaran yang
bersangkutan. Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif .
4. Keseimbangan
Adalah
faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua mata pelajaran itu mendapat
perhatian yang layak dalam komposisi kurikulum yang akan diprogramkan pada
siswa. Keseimbangan dalam kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yakni
keseimbangan isi atau apa yang dipelajari, dan keseimbangan cara atau proses
belajar.
5. Integrasi
atau keterpaduan
Berhubungan
dengan bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diterima siswa mampu memberi
bekal dalam menjawab tantangan hidupnya, setelah siswa menyelesaikan program
pendidikan disekolah.
C. Jenis-jenis Organisasi
Kurikulum
Menurut
S. Nasution, kurikulum terdapat tiga tipe atau tiga Organisasi
kurikulum, yaitu
1.
Separate-Subject Curriculum (Kurikulum Berdasarkan
Mata Pelajaran)
- Konsep dasar separate
subject
Kurikulum
ini disebut demikian karena segala bahan pelajaran disajikan dalam subject atau mata
pelajaran yang terpisah-pisah. Sehingga banyak jenis mata pelajaran
menjadi sempit ruang lingkupnya. Jumlah mata pelajaran yang diberikan cukup
bervariasi bergantung pada tingkat dan jenis sekolah yang bersangkutan. Dalam
praktek penyampaian pengajarannya, tanggung jawab terletak pada masing-masing
guru atau pendidik yang menangani suatu mata pelajaran yang dipegangnya.
Kurikulum
yang disusun dalam bentuk terpisah ini lebih bersifat subject centered,
berpusat ada bahan pelajaran daripada child centered yang berpusat pada minat
dan kebutuhan anak. Dari segi ini jelas kurikulum bentuk terpisah sangat
menekankan pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan
kepribadian anak secara keseluruhan.
Kurikulum
ini sejak lama diterapkan pada sekolah-sekolah kita, sampai dengan munculnya
kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975. Kurikulum ini mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang
terpisah satu sama lain, dan masing-masing berdiri sendiri
b. Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan
dalam kotak tersendiri dan diberikan dalam waktu tertentu
c. Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah
ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkah laku lainnya
d. Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan
masalah yang dihadapai para siswa
e. Bentuk kurikulum yang tidak
mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tututan dalam masyarakat yang
senantiasa berubah dan berkembang
f. Pendekatan metodologi mengajar yang
digunakan adalah sistem penuangan (imposisi) dan menciptakan perbedaan
individual di kalangan para siswa
g. Guru berperan aktif, dengan
pelaksaan sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar aktif di
kalangan para siswa
h. Para siswa sama sekali tidak dilibatkan
dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif
- Kelebihan separated-subject curriculum
a)
Bahan pelajaran tersajikan secara logis dan sistematis.
Dalam kurikulum ini, bahan
telah disiapkan dan disusun secara sistematis, logis, dan berkesinambungan. Penyusunan bahan telah
menggunakan urutan yang tepat, dari yang mudah menuju yang sukar, dari yang sederhana
menuju yang kompleks. Ilmu pengetahuan yang akan disampaikan kepada anak sudah dalam urutan
logis sebagaimana yang telah ditata dan dipikirkan oleh para ahli. Dengan demikian,
penggunaan kurikulum ini akan memudahkan guru dalam menyajikan materi, dan dipandang lebih
efektif dan efisien, karena pihak sekolah dan gurutinggal menyampaikan saja.
b)
Organisasi kurukulum sederhana serta mudah direncanakan dan
dilaksanakan.
Karena tiap mata pelajaran
disikapi sebagai suatu satuan yang otonom, maka perhatian dan penyusunan bahan hanya sebatas mata
pelajaran itu sendiri. Kesederhanaan inilah yang menjadikan kurikulum mudah
disusun dan dilaksanakan oleh para pengembang maupun guru. Kurikulum ini juga
mudah untuk direorganisasi, ditambah, atau dikurangi. Penentuan jumlah,
cakupan, dan urutan mata pelajaran tidak seberapa menimbulkan banyak masalah. Dalam
pelaksanaan kurikulum, guru umumnya dapat berpegang pada buku pelajaran yang
telah ditentukan, dan mengajarkannya bab demi bab. Apa yang diajarkan sudah ditentukan lebih dahulu,
sehingga guru dapat menyesuaikan jumlah waktu yang ditentukan dengan bahan
pelajaran yang tersedia.
c)
Kurikulum mudah dinilai
Kurikulum ini utamanya
bertujuan menyampaikan sejumlah pengetahuan, pengertian, dan kecakapan-kecakapan tertentu yang mudah
dinilai dengan tes. Bahan
pelajaran pun bisa ditentukan dengan menetapkan buku-buku pelajaran yang harus digunakan
oleh suatu daerah, atau bahkan satu negara. Hal ini akan memudahkan dilakukannya ujian umum yang
sama dalam satu wilayah negara. Dengan mudahnya pelaksanaan ujian, maka mudah pula
mendapatkan data seandainya
diperlukan perubahan-perubahan. Misalnya bila materi sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, baik
menyangkut keseluruhan komponen bahan ataupun sebagian, maka dengan segera dapat dilakukan
perubahan atau penyesuai-an
isi kurikulum.
d)
Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum
Umumnya pendidikan guru
mempersiapkan calon guru/guru (tingkat sekolah lanjutan) untuk mengajarkan mata pelajaran
tertentu. Dengan kurikulum ini, apa yang akan diajarkan guru sejalan betul dengan
pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya saat kuliah. Lebih-lebih bila mereka telah
memiliki pengalaman mengajar
bertahun-tahun. Mereka menjadi sangat menguasai bahan pelajaran dan lebih merasa aman
dengan menggunakan kurikulum subject-centered ini.
e)
Kurikulum ini juga dipakai di perguruan tinggi
Manajemen kurikulum di
terguruan tinggi pada umumnya menerapkan speparated subject curculum. Mahasiswa
mempelajari bidang keilmuan secara terkonsentrasi. Karena saat di sekolah menengah mereka juga
diajar dengan menggunakan
model kurikulum yang sama, maka para siswa lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan
tinggi telah terbiasa dengan belajar dalam situasi kurikulum seperti ini.
f)
Kurikulum ini mudah diubah
Perubahan kurikulum yang
terjadi umumnya didasarkan pada organisasi mata pelajaran. Penyesuaian kurikulum dengan
kebutuhan zaman biasanya dilakukan dengan menambah mata pelajaran, bisa juga meluaskan atau
menyempitkan materi
pelajaran. Hal seperti ini tentu akan mudah dilaksanakan pada kurikulum yang diorganisasikan
dengan cara separated subject curiculum, karena masingmasing mata pelajaran
bersifat terpisah. Dengan demikian penambahan, pengurangan, ataupun cakupan materi pun
tidak akan mengganggu pelajaran lain.
-
Kelemahan Separate-Subject Curriculum
a.
Mata pelajaran terpisah-pisah
Mata pelajaran dalam
kurikulum ini diberikan secara terpisah-pisah. Tidak ada upaya menghubungkan antara satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini menjadikan peserta didik akan menerima pengetahuan
secara terpisah-pisah,
dalam konsentrasi masing-masing mata pelajaran. Padahal, bagai persoalan kehidupan yang riil
umumnya perlu dihadapi dengan
pengetahuan yang menyeluruh atau terpadu. Dengan demikian, anak masih sering mengalami
kegagapan pada saat menghadapi persoalan sehari-hari dengan berbagai konteksnya.
b.
Kurang memperhatikan masalah kehidupan sehari-hari.
Penyampaian kurikulum ini
semata-mata menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan. Bahkan kadang-kadang materi yang dipelajari
siswa tidak ada relevansinya
dengan kebutuhan hidup. Bila anak sudah bisa memecahkan permasalahan-permasalahan di sekolah
dianggap dengan sendirinya akan mampu mentransformasikannya dalam menghadapi persoalan
kehidupan sehari-hari. Padahal,
kenyataan hidup di luar sekolah berbeda sekali dengan apa yang biasa terjadi di sekolah.
c.
Cenderung statis dan ketinggalan zaman
Karena pengetahuan dianggap
sebagai hal yang telah ditemukan orang masa lalu, maka kegiatan belajar siswa di sekolah hanya
mempelajari apa yang sudah
ada dan disiapkan. Akibatnya, buku pelajaran yang digunakan pun bisa
berlaku bertahun-tahun,
tanpa pernah melakukan revisi. Bila ini yang terjadi, maka semuanya akan menjadi statis. Buku
pegangan guru tetap itu-itu saja. Padahal, kehidupan manusia terus berkembang secara dinamis. Apa
yang dianggap benar pada
masa lalu, belum tentu dianggap benar pada masa sekarang. Apalagi bila ada guru “tertutup”
yang fanatik pada satu buku, karena buku itulah yang dulu dipelajarinya, maka dianggaplah apa yang
ada dalam buku itu yang paling benar.
d.
Tujuan kurikulum sangat terbatas
Separated subject
curriculum hanya menekankan pada
aspek intelektual, dan mengabaikan
aspek emosional dan sosial. Padahal, ketiga aspek itu sama pentingnya bagi tumbuh-kembang siswa
secara utuh. Karena hanya menekankan aspek intelektual, maka anak akan mengalamai persoalan
pada saat harus terjun ke
masyarakat untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Materi pelajaran pun disamaratakan untuk
semua peserta didik, tanpa memperhatikan perbedaan individu. Karena itu pula, kurikulum separated
subject curriculum dipandang tidak demokratis.
2.
Correlated-Subject Curriculum (Kurikulum
Gabungan)
Correlated
curriculum adalah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan
antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Tetapi tetap memperhatikan karakteristik tiap mata pelajaran tersebut. Hubungan
antar mata pelajaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pertama, insidental artinya secara
kebetulan ada hubungan antar mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran
lainnya. Misalnya mata pelajaran IPA disinggung tentang mata pelajaran geografi
dan sebagainya.
b. Kedua, menghubungkan secara lebih erat jika
terdapat suatu pokok bahasan yang dibicarakan dalam berbagai mata pelajaran.
Misalnya masalah moral dan etika dibicarakan dalam mata pelajaran agama.
c. Ketiga, batas mata pelajaran disatukan dan
difungsikan dengan menghilangkan batasan masing-masing mata pelajaran.
Penggabungan antara beberapa mata peajaran menjadi satu disebut sebagai broad
field. Misalnya mata pelajaran bahasa merupakan peleburan dari mata pelajaran
membaca, tata bahasa, menulis, mengarang,menyimak dan pengetahuan bahasa.
Ciri-ciri
kurikulum gabungan ini di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Berbagai mata pelajaran di korelasikan satu
dengan yang lainnya
b. Sudah dimulai dengan adanya usaha untuk
merelevansikan pelajaran dengan permasalaham kehidupan sehari-hari, kendatipun
tujuannya masih penguasaan pengetahuan
c. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian
pelajaran dengan minat dan kemapuan para siswa, meski pelayanan terhadap
perbedaan individual masih sangat terbatas
d. Metode penyampaian menggunakan metode
korelasi, meski masih banyak yang menghadapi kesulitan
e. Meski guru masih memegang peran penting,
namun aktivitas siswa sudah mulai dikembangkan
- Kelebihan Correlated Curriculum
a.
Mendukung keutuhan pengetahuan dan pengalaman belajar murid
Siswa tidak menerima
pelajaran dalam satuan/bahasan yang terpisah-pisah. Mereka mempelajari suatu permasalahan yang
disoroti dari berbagai sudut yang saling berhubungan, yaitu melalui berbagai mata
pelajaran. Dengan demikian,
pengetahuan dan pengalaman anak didik diharapkan dpat lebih luas.
b.
Memungkinkan penerapan hasil belajar yang lebih fungsional
Adanya keterkaitan antarmata
pelajaran menjadikan pengetahuan dan pengalaman belajar siswa dapat diterapkan lebih
fungsional. Pengaitan antarmateri pelajaran lebih mengutamakan prinsip-prinsip daripada
penguasaan fakta-fakta.
Dengan prinsip-prinsip yang diolah dari berbagai mata pejaran inilah
anak didik dapat
lebih terbuka untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya secara lebih komprehensif.
c.
Meningkatkan minat belajar siswa
Pemahaman tentang adanya
keterkaitan antarmata pelajaran dapat menjadi modal bagi tumbuhnya minat belajar siswa.
Mereka akan merasa apa yang dipelajari pada mata pelajaran tertentu memiliki manfaat dalam mata
pelajaran yang lain.
-
Kelemahan Correlated Subject Curriculum
a.
Kurikulum masih bersifat subject centered
Sifat kurikulum yang subject
centered (berpusat pada subjek/mata pelajaran) menjadikan bahan pelajaran disusun
berdasarkan pada struktur ilmu pengetahuan. Artinya, bahan mata pelajaran dalam
kurikulum belum memiliki orientasi pada minat-bakat dan kebutuhan sehari-hari siswa (child
centered).
b.
Kurang memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam
Penggabungan beberapa mata
pelajaran menjadi satu kesatuan lingkup yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis
dan mendalam. Bagaimana-pun,
pembicaraan mengenai suatu pokok masalah dalam sejumlah berbagai mata pelajaran tetap tidak padu,
karena pada dasarnya masing-masing memang merupakan subject (mata pelajaran) yang
berbeda. Dengan dikuranginya
bahan/materi (juga jam) pelajaran, maka pengetahuan yang dikuasai anak
didik menjadi
dangkal.
c.
Menuntut pendekatan interdisipliner
Para guru, khususnya untuk
sekolah lanjutan, umumnya disiapkan untuk mengajar satu mata pelajaran tertentu. Sulit bagi mereka
untuk menerapkan pendekatan
interdisipliner, yang menuntut kesanggupan guru untuk dapat berpandangan dan berpikir secara lintas
disiplin.Guru pun masih sangat fanatic terhadap disiplin atau mata pelajaran pokok yang
diasuhnya. Kalaupun menggunakan mata pelajaran lain, hal itu kerap itu disikapi sebagai
pelajaran pembantu.
3.
Integrated Curriculum
Dalam
integrated curriculum mata pelajaran dipusatkan pada suatu masalah atau unit
tertentu. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat terbentuk kebulatan
pribadi peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Oleh karena
itu, hal-hal yang diajarkan di sekolah harus disesuaikan dengan situasi,
masalah dan kebutuhan kehidupan di luar sekolah.
Ciri-ciri
umum dari kurikulum studi adalah sebagai berikut :
a. Kurikulum terdiri atas suatu bidang
pengajaran, yang di dalamnya terpadu sejumlah mata pelajaran sejenis dan
memiliki ciri-ciri yang sama
b. Pelajaran bertitik tolak dari core
subject, yang kemudian diuraikan menjadi sejumlah pokok bahasan
c. Berdasarkan tujuan kurikuler dan tujuan
instruktusional yang telah digariskan
d. Sistem penyampaian bersifat terpadu
e. Guru berperan selaku guru bidang studi
f. Minat, masalah, serta kebutuhan siwa dan
masyarakat dipertimbangkan sebagai dasar penyusunan kurikulum, walaupun masih
dalam batas-batas tertentu
g. Dikenalkan berbagai jenis
bidang studi
Adapun
dalam bentuk kurikulum terpadu ini terbagi lagi, meliputi :
1) Kurikulum inti (core curriculum)
Kurikulum
ini bertujuan untuk mengembangkan integrasi, melayani kebutuhan siswa dan
meningkatkan keaktifan belajar dan hubungan antara kehidupan dan belajar.
Ciri
yang membedakan kurikulum inti, yaitu :
a.
Kurikulum inti menekankan
kepada nilai-nilai sosial, unsur universalitas dalam suatu kebudayaan
memberikan stabilitas dan kesatuan pada masyarakat.
b.
Struktur kurikulum inti
ditentukan oleh problem sosial.
c.
Karakteristik yang dapat
dikaji dalam kurikulum ini adalah :
d.
Kurikulum ini direncanakan
secara berkelanjutan (continue), selalu berkaitan dan direncanakan secara
terus-menerus
e.
Isi kurikulum yang
dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan
f.
Isi kurikulum selalu
mengambil atas dasar masalah atau problema yang dihadapi secara actual
g.
Isi kurikulum cenderung
mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun social
h.
Isi kurikulum ini
difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum
umum, tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, sosial dan pengalam
pribadi.
Manfaat
kurikulum inti adalah :
a. Segala sesuatu yang dipelajari dalam unit
bertalian erat
b. Kurikulum ini sesuai dengan
pendapat-pendapat modern tentang belajar
c. Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang
erat antara sekolah dengan masyarakat
d. Kurikulum ini sesuai dengan paham demokrasi
e. Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan
minat.
2) Kurikulum yang berlandaskan pada proses
sosial dan fungsi kehidupan (social functions and persistens situations)
Kurikulum
social functions didasarkan atas kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat,
dalam social functions dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang
dapat dijadikan sebagai topik pembelajaran. Sebagai modifikasi dari social
functions adalah persistent life situations yng berkarakteristik yaitu situasi
yang diangkat senantiasa dihadapi manusia dalam hidupnya, masal lalu, saat ini
dan masa yang akan datang.
Secara
umum ada tiga kelompok situasi yang dihadapi manusia, yaitu :
a.
Situasi mengenai
perkembangan individu. Misalnya kesehatan, intelektual, moral dan keindahan.
b.
Situasi untuk
perkembangan partisipasi sosial yaitu : hubungan antar pribadi, keanggotaan
kelompok dan hubungan antar kelompok.
c.
Situasi untuk perkembangan
kemampuan menghadapi faktor-faktor ekonomi dan daya-daya lingkugan, yaitu :
bersifat alamiah, sumber teknologi dan struktur dan daya-daya sosial ekonomi
Kurikulum
ini dikenal juga dengan sebutan life curruculum, yang bertujuan memberikan
pengalaman belajar yang berarti bagi anak sesuai dengan apa yang dibutuhkan
sehari-hari dalam kehidupan.
Ide
life curriculum pada dasarnya bersumber dari pandangan Herbert Spencer (1860)
tentang lima kategori bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dijadikan tujuan
pendidikan, yaitu :
a) Self preservation (pemeliharaan diri)
b) Securing necessities of life (menggembarkan
kepentingan kehidupan)
c) Rearing and disciplining of a offspringl
(memelihara keturunan)
d) Meintenance of proper social and political
relations (memelihara hubungan sosial dan politik
3) Kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau
pengalaman (experience and activity curriculum)
Kurikulum
ini dikenal juga dengan sebutan activity curriculum. Mengutamakan
kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk
kemampuan yang terintegritas dengan lingkungan maupun potensi siswa.
Kurikulum
ini berupaya mengatasi kelemahan pada subject curriculum, yakni anak lebih
banyak menerima (passive), juga bahan pelajaran merupakan hasil pengalaman masa
lampau.
Rasional
penggunaan bentuk kurikulum ini adalah :
a)
Belajar dapat terjadi
dengan proses mengalami. Anak dapat belajar dengan baik bila ia dihadapkan
dengan masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan reel atauminatnya.
b)
Belajar merupakan
transaksi aktif.
c)
Belajar secara aktif
memerlukan kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai
tujuan dan memenuhi kebutuhan pribadinya.
d)
Belajar terjadi melalui
proses mengatasi hambatan (masalah) sehingga mencapai pemecahan atau tujuan.
e)
Hanya dengan melalui
penyodoran masalah memungkinkan diaktifkannya motivasi dan upaya, sehingga anak
berpengalaman dengan kegiatan yang bertujuan.
Penggunaan
kurikulum ini dengan menggunakan metode proyek. Kill Patrick (1918) membagi
proyek-proyek yang dapat dilaksanakan sebagi berikut :
a)
Proyek permainan seperti
menari atau drama
b)
Proyek eksistensi seperti
karya wisata ke tempat-tempat bersejarah, kebun biologi dan sejenisnya
c)
Proyek cerita seperti
membaca cerita, mendengarkan cerita
d)
Proyek pekerjaan tangan
seperti membuat prakarya
Menurut
Nasution, dalam perkembangan kurikulum ini selanjutnya pengalaman langsung dan
minat spontan lebih-lebih digunakan sebagai bantuan dalam proses belajar. Bukan
sebagai pokok untuk menusun unit. Minat anak lebih banyak ditentukan
berdasarkan studi, pengalaman atau penelitian.
-
Kelebihan Integrated
Curriculum
a.
Segala hal yang dipelajari dalam unit bertalian erat satu sama
lain. Bukan sekedar fakta-fakta
terpisah, sehingga lebih fungsional bagi kehidupan anak.
b.
Sesuai dengan teori baru mengenai belajar yang mendasarkan pada
pengalaman, kematangan,
dan minat anak. Anak terlibat secara aktif, berbuat, serta belajar
bertanggung jawab.
c.
Memungkinkan hubungan yang lebih erat antara sekolah dan
masyarakat, karena masyarakat
dapat menjadi laboratorium kegiatan belajar.
-
Kelemahan Integrated Curriculum
a.
Tidak mempunyai organisasi yang logis dan sistematis. Bahan
pelajaran tidak dapat
ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh guru atau lembaga, melainkan harus dirancang secara
bersama-sama dengan murid.
b.
Para guru umumnya tidak disiapkan untuk menjalankan kurikulum
dalam bentuk unit.
c.
Pelaksanaan kurikulum unit sangat memerlukan waktu, serta dukungan
peralatan sarana
dan prasarana yang cukup.
d.
Tidak memiliki standar hasil belajar yang jelas, sehingga sulit
mengukur kemampuan anak
secara nasional.
Komentar
Posting Komentar